
Kalau dilihat dari sisi branding dan psikologi pembacanya, domain .com dan .my.id ternyata punya perbedaan persepsi di mata pengunjung. Terutama dari sisi tingkat kepercayaan, kebiasaan, dan bagaimana orang mengingat sebuah alamat website.
Ada beberapa hal yang menarik untuk kita bahas:
- Kenapa pengunjung lebih nyaman mengklik domain .com?
- Bagaimana harga murah .my.id bisa memunculkan stigma negatif?
- Kenapa domain .com lebih mudah diingat secara psikologis?
- Seperti apa perbandingan keduanya dari sisi branding dan kredibilitas?
Domain .com Lebih Familiar di Mata Pengunjung
Pertama, dari tingkat CTR, istilahnya itu seberapa sering pengunjung mengklik link atau tautan di hasil pencarian Google.
Kita sering tuh kalau mengetik kata kunci di Google, nanti akan menampilkan hasil pencarian. Di situ kelihatan alamat situs atau website, termasuk ekstensi domainnya apa.
Orang-orang yang sudah akrab dengan internet sejak zaman awal perkembangannya biasanya tahunya alamat internet itu menggunakan www.namawebsite.com.
Jadi, secara alam bawah sadar, mereka cenderung lebih nyaman mengklik website yang sudah dikenal sejak dulu. Kalau generasi-generasi milenial itu kan mengalami bagaimana internet mulai berkembang dan alamat website identik dengan .com.
Sekarang, kalau bagi orang-orang awam, apalagi mereka sudah punya kesadaran bahwa ada banyak website phishing dan website untuk nipu, tentu ada pertimbangan lain.
Bisa dibayangkan ketika website kita menggunakan ekstensi .my.id yang nggak umum atau belum familiar bagi mereka. Rasa ketidaktahuan ini bisa memicu rasa waspada.
Mereka mungkin bertanya-tanya, ini benar nggak sih? Jangan-jangan phishing atau virus yang kemudian saat diklik akan terjadi sesuatu dengan komputer atau HP mereka.
Padahal, belum tentu website dengan domain .my.id itu berbahaya. Bisa saja website tersebut memang dibuat untuk keperluan pribadi atau bisnis yang serius.
Masalahnya, orang yang belum teredukasi tentang domain .id belum tentu memahami perbedaan tersebut. Jadi, kalau ada pembanding di hasil pencarian Google, domain .com dan domain .my.id, mereka mungkin akan lebih nyaman mengklik domain .com.
Stigma Negatif Domain .my.id karena Harganya Murah
Yang kedua, ada stigma negatif domain .my.id. Dan ini memang jadi dilema juga karena domain ini harganya murah.
Akhirnya, domain seperti ini sering disalahgunakan untuk toko online palsu, spam, phishing, dan website-website untuk nipu.
Biasanya, website seperti ini memang nggak dibuat untuk jangka panjang. Kalau kena blokir, biaya yang mereka keluarkan juga nggak terlalu banyak.
Jangan dipikir mereka cuma membuat satu website dengan domain .my.id. Bayangin kalau mereka membuat banyak website dengan konten untuk nipu. Faktor kali dari harga domain yang murah ini tentu menjadi keuntungan bagi mereka.
Karena murahnya ini, akhirnya domain tersebut ikut mendapatkan stigma negatif. Dampaknya juga terasa bagi pengguna .my.id yang sebenarnya punya tujuan baik.
Dampaknya terhadap kepercayaan bisnis
Saya pribadi juga punya pertimbangan seperti ini. Misalnya ada orang yang mengirimkan proposal penawaran, tetapi domain yang digunakan adalah .my.id, rasanya kurang dipercaya.
Apalagi kalau penawarannya berkaitan dengan bisnis atau kerja sama yang nilainya lumayan besar.
Begitu juga dengan email corporate. Sistem email biasanya punya filter-filter tertentu untuk mendeteksi pesan yang berisiko, termasuk email yang dicurigai sebagai spam atau phishing.
Kayak di Gmail, akun email kita yang dari Google itu kan punya filter tertentu. Ketika ada email atau link yang dianggap berbahaya, sistem bisa langsung memasukkannya ke folder spam.
Terus, bagaimana kalau kita seorang profesional yang ingin menunjukkan hasil desain, tulisan, atau jasa konsultasi kepada calon klien?
Misalnya kita punya portofolio dan ingin menunjukkan hasil pekerjaan kepada klien yang paham dunia digital. Apalagi kalau nilai kontraknya lumayan besar.
Ketika mereka melihat website kita menggunakan ekstensi domain yang kurang familiar, bisa saja muncul anggapan bahwa kita kurang serius berinvestasi pada bisnis sendiri. Terlihat kurang premium atau kurang modal.
Bahkan, orang yang paham maupun yang nggak terlalu paham tentang domain bisa saja memilih meninggalkan website kita karena merasa kurang yakin.
Domain .com Lebih Mudah Diingat Secara Psikologis
Yang ketiga, domain .com ini memang sangat-sangat familiar. Mudah diingat lah istilahnya itu, memorable.
Kalau misalnya kita mempromosikan merek melalui poster, papan nama, atau baliho, secara psikologis orang lebih mudah mengingat nama merek yang diakhiri dengan .com.
Ada konsep yang biasanya disebut cognitive ease atau kemudahan kognitif. Jadi, secara otomatis otak manusia itu cenderung menambahkan .com di akhiran sebuah nama merek.
Misalnya kita mempromosikan merek Anda. Orang akan mengaitkan atau mengetik otomatis merekanda.com, bukan merekanda.my.id.
Bukan cuma itu, shortcut di keyboard juga mendukung kebiasaan ini. Ketika kita mengetik nama website di address bar browser, kemudian menahan tombol Ctrl dan menekan Enter, alamat tersebut otomatis ditambahkan www dan .com.
Jadi, memang sudah ada kebiasaan tersendiri ketika orang menggunakan ekstensi .com.
Perbedaan dari sisi pengucapan
Kalau .my.id, ada dua bagian yang harus diucapkan, yaitu my dan id. Sementara .com cuma satu bagian saja.
Kalau dibandingkan, .my.id membutuhkan sedikit tambahan untuk dieja dan diingat. Saya sendiri mengucapkannya saja juga agak susah gitu kan.
Ini memang terlihat sederhana, tetapi dalam dunia branding, kemudahan menyebut dan mengingat nama domain juga menjadi pertimbangan.
Perbandingan Domain .com dan .my.id dari Sisi Branding dan Kredibilitas
Kalau dari aspek pandangan masyarakat atau persepsi publik, domain .com itu lebih profesional, mapan, dan skalanya bisa global atau internasional.
Sedangkan domain .my.id lebih personal banget. Kayak blog pribadi, website milik sendiri, atau alternatif domain murah untuk pemula.
Dari aspek tingkat kepercayaan atau kredibilitas, .com sudah punya standar yang sangat familiar dan dikenal di seluruh dunia. Sedangkan .my.id masih harus berjuang menghadapi stigma yang terbentuk tadi.
Baik itu dari sudut pandang manusia, yaitu orang yang ingin menggunakan layanan website kita atau mengakses informasi di dalamnya, maupun dari sudut pandang sistem digital yang melakukan penyaringan terhadap website dan email.
Dari aspek daya ingat atau recall, domain .com itu otomatis dan sangat mudah diingat. Sementara .my.id membutuhkan usaha tambahan untuk dieja dan diingat.
Saya juga punya pengalaman pribadi terkait domain .my.id ini. Sebelum menulis artikel ini, saya pernah membahas kegalauan karena domain tersebut mengalami kendala ketika digunakan di Google Search Console versi sekarang.
Waktu itu, sitemap yang saya kirimkan mendapatkan keterangan tidak bisa mengambil sitemap tersebut. Pengalaman ini menjadi salah satu pertimbangan saya dalam memilih ekstensi domain.
Rangkaian Kegalauan Saya
Jadi, ini memang rangkaian kegalauan saya tentang pemilihan nama domain .my.id atau .com.
Ternyata, kalau dilihat dari sisi branding dan psikologi pembacanya, persoalannya bukan cuma harga murah atau mahal. Ada faktor kepercayaan, persepsi publik, daya ingat, dan bagaimana calon klien memandang website kita.
Saya juga sudah membuat beberapa tulisan sebelumnya yang benar-benar konsen dengan pembahasan ini.
Kalau kalian punya pendapat lain atau pengalaman sendiri tentang domain .my.id, silakan komentar.







