Pakai Draft WordPress Untuk Selesaikan Tulisan

STOP Maksa Nulis Sekali Jadi, Coba Fitur Draf WordPress Bantu Kamu Tetap Produktif

Kesulitan konsisten menulis blog? Coba berhenti memaksa artikel selesai dalam sekali duduk. Simak cara menulis lebih santai dan produktif.

Kalau sedang kesulitan konsisten menulis, mungkin artikel ini bisa membantu. Kita akan ngobrol tentang:

  • Kenapa memaksa artikel selesai dalam sekali duduk justru sering jadi penghambat.
  • Cara memanfaatkan draf dan fitur penjadwalan agar proses menulis lebih ringan.
  • Mengapa tulisan enggak harus sempurna sebelum mulai ditulis.
  • Dan bagaimana blog bisa menjadi tempat menyimpan ide, pengalaman, dan pemikiran kita.

Siapa Bilang Artikel Harus Selesai Hari Ini?

Ada satu kebiasaan yang menurut saya cukup sering bikin orang gagal konsisten menulis.

Mereka merasa artikel harus selesai dalam satu kali duduk.

Begitu mulai menulis, targetnya langsung dari judul sampai penutup harus beres hari itu juga. Akibatnya, ketika mulai buntu, capek, atau kehilangan ide, proses menulis malah terasa menyiksa.

Padahal saya sering bertanya ke diri sendiri, memang harus seperti itu ya?

Kalau artikel hari ini belum selesai, emangnya ada yang marah?

Siapa juga yang memaksa kita menyelesaikannya sekarang?

Menulis Itu Kadang Memang Mengalami Kebuntuan

Menulis sebenarnya bukan pekerjaan yang selalu lancar.

Ada saat di mana ide di kepala banyak sekali, tetapi begitu mau dituangkan ke dalam tulisan, semuanya tiba-tiba terasa berantakan.

Yang tadinya ingin menulis santai malah berubah menjadi sibuk memikirkan banyak hal.

Apakah tulisan ini cukup bagus?

Apakah kalimatnya sudah enak dibaca?

Apakah pembaca nanti suka?

Apakah artikel ini cukup pintar?

Nah, tanpa sadar kita akhirnya lebih sibuk memikirkan hasil akhirnya daripada menikmati proses menulisnya.

Di titik inilah menulis mulai terasa berat.

Terlalu Ingin Sempurna Justru Jadi Beban

Kadang yang membuat kita lelah bukan proses menulisnya.

Yang membuat capek justru keinginan untuk membuat tulisan yang sempurna.

Kita ingin artikel yang bagus.

Kita ingin pembaca terkesan.

Kita ingin semuanya rapi sejak paragraf pertama.

Akhirnya tulisan yang belum selesai terus dipaksa selesai.

Ketika energi habis, yang muncul bukan rasa puas, tetapi rasa lelah.

Padahal belum tentu pembaca menuntut semua itu.

Sering kali yang menuntut justru diri kita sendiri.

Padahal Ada yang Namanya Draf

Kalau menggunakan WordPress, sebenarnya masalah seperti ini sudah lama punya solusi.

Namanya draf.

Tulisan enggak harus langsung dipublikasikan.

Enggak harus langsung selesai.

Enggak harus langsung sempurna.

Kita bisa menyimpan tulisan, menutup laptop, lalu melanjutkannya besok.

Sesederhana itu.

Nyicil Tulisan Juga Boleh

Kadang saya sendiri lebih suka menulis sedikit demi sedikit.

Hari ini cukup membuat judul.

Besok membuat poin-poin utama.

Lusa mengembangkan satu atau dua bagian.

Kemudian ketika ada waktu luang, tinggal dirapikan.

Menariknya, cara seperti ini sering terasa jauh lebih ringan dibanding memaksa artikel selesai dalam sekali duduk.

Karena fokus kita bukan menyelesaikan semuanya sekaligus.

Fokusnya cukup satu langkah kecil dalam satu waktu.

Draf Itu Tempat Menyimpan Ide

Menurut saya, salah satu fungsi paling penting dari blog adalah sebagai tempat menyimpan ide.

Karena enggak semua ide harus langsung jadi artikel.

Kadang ada pemikiran yang muncul tengah malam.

Kadang ada pengalaman menarik yang baru terjadi sore tadi.

Kadang ada kegelisahan kecil yang rasanya ingin dicatat supaya enggak hilang.

Daripada sibuk menunggu waktu yang sempurna, kenapa enggak langsung ditulis saja ke dalam draf?

Nanti kalau ada waktu, tinggal dilanjutkan.

Kalau ada ide baru, tinggal ditambahkan.

Kalau ada yang kurang, tinggal diperbaiki.

Artikel Bisa Tayang Nanti

Yang menarik lagi, WordPress punya fitur penjadwalan.

Jadi setelah artikel selesai, kita enggak harus langsung menekan tombol publish.

Kita bisa menentukan sendiri kapan tulisan tersebut ingin tayang.

Besok.

Lusa.

Minggu depan.

Bulan depan pun bisa.

Jadi setelah artikel selesai ditulis, kita bisa beralih mengerjakan hal lain sementara blog tetap berjalan sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Tulis Aja Dulu Apa yang Ada di Kepala

Buat sebagian orang, menulis bukan pekerjaan utama.

Bukan jurnalis.

Bukan penulis buku.

Bukan content writer.

Hanya orang biasa yang ingin punya tempat untuk bercerita atau berbagi pemikiran.

Kalau begitu, mungkin enggak perlu terlalu membebani diri.

Tulis aja dulu apa yang ada di kepala.

Ide yang lagi muncul.

Kegelisahan sehari-hari.

Pengalaman kerja.

Cerita keluarga.

Pendapat tentang sesuatu.

Atau hal-hal sederhana yang menurut kita menarik untuk disimpan.

Bahasanya juga enggak perlu terlalu kaku.

Pakai bahasa sehari-hari pun enggak masalah.

Anggap saja sedang ngobrol, hanya saja obrolannya ditulis.

Punya Blog Enggak Harus Jago Teknis

Ada juga yang ingin punya blog tetapi mundur duluan karena merasa kurang paham soal teknis.

Padahal hampir semua orang pernah ada di fase itu.

Bingung cara membuat postingan.

Bingung cara menyimpan draf.

Bingung cara mengatur jadwal tayang.

Itu wajar.

Karena semua memang perlu dipelajari sedikit demi sedikit.

Tetapi kalau tujuannya untuk punya tempat menyimpan karya, ide, dan pemikiran, rasanya sayang kalau niat itu berhenti hanya karena urusan teknis.

Tulisan Bisa Menjadi Arsip Diri Sendiri

Ada satu hal yang sering terlupakan.

Tulisan bukan hanya untuk dibaca orang lain.

Tulisan juga bisa menjadi arsip untuk diri sendiri.

Beberapa tahun dari sekarang, kita bisa membuka kembali tulisan-tulisan lama.

Melihat apa yang pernah dipikirkan.

Apa yang pernah dipelajari.

Apa yang pernah diperjuangkan.

Dan kadang dari situ kita baru sadar bahwa perjalanan yang sudah dilewati ternyata cukup panjang.

Itulah salah satu alasan kenapa saya suka menulis.

Karena tulisan menyimpan jejak yang sering kali gagal diingat oleh ingatan kita sendiri.

Mulai Aja Dulu

Jadi kalau saat ini kamu ingin menulis, jangan terlalu sibuk memikirkan hasil akhirnya.

Enggak harus selesai hari ini.

Enggak harus langsung sempurna.

Enggak harus langsung dipublikasikan.

Mulai aja dulu.

Buat judulnya.

Tulis poin-poinnya.

Simpan sebagai draf.

Lalu lanjutkan lagi ketika ada waktu dan energi.

Karena kadang yang kita butuhkan bukan motivasi yang besar.

Kita hanya perlu berhenti mempersulit prosesnya.

Butuh Blog untuk Menyimpan Tulisan?

Kalau kamu sudah lama ingin punya blog pribadi tetapi masih bingung harus mulai dari mana, mungkin sekarang saatnya punya tempat sendiri untuk menyimpan tulisan, ide, dan berbagai catatan yang selama ini hanya ada di kepala.

Apa pun yang kamu sukai, semuanya bisa diarsipkan dalam bentuk tulisan.

Dan siapa tahu, apa yang awalnya hanya untuk diri sendiri ternyata bisa bermanfaat juga bagi orang lain.

Kalau tertarik membuat blog WordPress pribadi yang siap digunakan, kamu bisa menghubungi PASIRGURUN.

Nanti kamu juga akan dibantu memahami cara mulai menulis, menyimpan draf, hingga mengelola artikel di WordPress.

Jadi kamu bisa fokus pada hal yang paling penting: mulai menulis dan memberi tempat bagi ide-ide yang selama ini hanya lewat begitu saja di kepala.

Pasirgurun.
Pasirgurun.

Saya orang di balik PASIRGURUN. Blog pribadi tempat saya menyimpan berbagai hal yang saya temui, pelajari, kerjakan, dan pikirkan. Kadang membahas sejarah dan peradaban Islam, kadang buku dan psikologi, kadang WordPress, SEO, teknologi, atau sekadar cerita-cerita kecil yang sayang kalau lewat begitu saja. Kok namanya PASIRGURUN? nah ceritanya ada disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *