
Ini masih dalam rangkaian dilema domain .com versus my.id antara hobi, SEO, dan traffic. Tulisan yang pertama kali saya buat itu berangkat dari kegelisahan yang saya rasakan sendiri.
Tapi, sekarang masuk ke pembahasan yang lebih teknis, yaitu terkait risiko SEO dan dilema saat kita migrasi.
Pembahasan pertama, risiko utama dari migrasi atau pindah domain my.id ke domain .com.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:
- Perubahan geo-targeting atau target wilayah.
- Fluktuasi ranking Google dan traffic.
- Risiko kehilangan otoritas domain.
- Waktu pemulihan ranking dan traffic setelah migrasi.
- Biaya tambahan karena harus mempertahankan domain dan hosting lama.
Risiko SEO Saat Migrasi Domain my.id ke .com
Risiko utama dari migrasi atau pindah domain my.id ke domain .com yang jelas terkait geo-targeting.
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, kalau my.id itu geo-targeting-nya otomatis ke Indonesia karena memang domain ini berasal dari Indonesia. Secara default, Google memberikan target audience secara otomatis, utamanya dari Indonesia.
Terus, ketika kita pindah ke .com, sifatnya domain generik atau umum. Berarti kita harus mengulang konfigurasi setting-setting-nya, termasuk preferensi target wilayah di Google Search Console atau kalau dulu Google Webmaster.
Ini harus kita ubah kalau ingin mempertahankan fokus lokal. Jadi, harus ada setting untuk itu.
Ini menjadi catatan, jangan sampai nanti lupa ketika kita pindah dari domain my.id ke .com.
Fluktuasi Ranking Google dan Traffic Setelah Migrasi
Selanjutnya, risiko dari fluktuasi peringkat atau ranking.
Bagi para pemain SEO, masalah traffic ini kan jadi faktor yang utama. Kenapa website dibuat? Itu kan memang tujuannya traffic. Ujungnya nanti apa? Kepada konversinya. Traffic itu mau dikonversi untuk apa, nanti itu jadi pertanyaan berikutnya.
Saat mengganti domain, berarti ada ketidakstabilan ranking. Google sendiri butuh waktu untuk merayapi kembali website kita dengan domain yang baru.
Ada proses yang namanya migrasi. Google itu butuh waktu memilih, ini website yang benar yang mana nih, domain my.id atau domain .com.
Makanya, ranking-nya nanti akan naik turun di hasil pencarian.
Kalau dalam istilah teknisnya, butuh waktu bisa sebulan, dua bulan, bahkan tahunan, tergantung seberapa banyak konten kita di dalam blog.
Google juga melakukan crawl itu tidak sekaligus, tetapi bertahap.
Perubahan Struktur URL atau Permalink
Belum lagi nanti perubahan struktur URL atau permalink.
Setiap postingan itu kan ada alamat nama blog kita, terus ada link spesifik artikel. Itu juga menjadi beban algoritma Google untuk mencocokkan relevansi halaman yang lama sama yang baru.
Otomatis ini bisa berubah, apalagi kalau memang sengaja dirubah.
Misalnya, URL-nya itu sebelumnya berita/judul, terus akhirnya menjadi blog/judul. Ini kan kayak duplikat konten.
Jadi, ada risiko juga nanti Google menghapus keduanya, kemudian mengindeks ulang, lalu mengambil salah satu yang memang benar-benar relevan.
Ini kan perlu algoritma Google bekerja. Kita nggak tahu berapa lama Google mampu mengenali struktur URL atau permalink tadi. Yang benar itu yang mana?
Risiko Kehilangan Otoritas Domain
Belum lagi itu risiko kehilangan otoritas atau transfer otoritas domain.
Walaupun kita sudah menggunakan pengalihan 301, yang artinya kita ingin mengatakan kepada Google Search Console bahwa domain lama my.id diarahkan ke .com, tetap saja proses ini bisa membuat otoritas website yang baru tidak sepenuhnya mendapatkan otoritas dari website lama.
301 itu artinya kita berusaha menerangkan kepada Google bahwa perpindahan ini permanen. Domain lama ditinggal, yang baru dipakai.
Tapi, tetap saja proses transfer otoritas ini tidak sepenuhnya bisa ditransfer. Ada sekitar 90 sampai 99 persen yang bisa tertransfer. Sisanya itu bisa hilang atau mungkin bisa gagal.
Seperti inilah kasusnya Freepik. Itu kan sekarang ganti domain dari Freepik.com menjadi Magnific.com.
Ketika kita ngeklik di Google, yang tampil sekarang kan langsung domain Magnific.com. Walaupun dia tidak pakai domain yang berbeda jenis, sama-sama .com, tetap ada pengalihan.
Pasti ada proses transfer otoritas dari domain sebelumnya. Otoritas domain yang baru tidak langsung sempurna. Proses transfernya itu butuh waktu yang lama.
Jadi, risikonya di situ juga.
Berapa Lama Google Memulihkan Ranking dan Traffic?
Coba kita bahas estimasinya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan Google untuk memulihkan peringkat atau traffic setelah kita migrasi?
Umumnya sampai 4 sampai 12 minggu. Tapi, ini tergantung lagi dari jumlah postingan kita.
Misalnya, kita buat penggambaran seperti ini.
Website dengan 500 Halaman
Website dengan sekitar 500 halaman itu estimasi pemulihannya 2 sampai 4 minggu.
Dengan catatan, Googlebot memang aktif untuk mencoba meng-crawl atau merayapi situs kita. Tapi, kita nggak tahu nih, dia mau aktif atau enggak.
Website dengan 500 sampai 5.000 Halaman
Terus untuk website menengah, skala website dari 500 sampai 5.000 halaman, estimasi pemulihannya 4 sampai 8 minggu.
Catatannya, butuh waktu untuk mendistribusikan ulang crawl budget.
Di Google Search Console itu ada keterangan bahwa robot Google ini nggak langsung serta-merta meng-crawl situs kita.
Kadang dia gagal karena alasan beban server situs kita sendiri terlalu berat, sehingga situs kita tidak bisa diakses.
Akhirnya, dia menunda untuk mengulangi lagi saat dia datang berikutnya. Ketika situs kita nggak bisa kebuka atau servernya terlalu terbebani, dia akan menunda lagi.
Proses ini juga akan memengaruhi waktu pemulihan.
Website Besar dengan Lebih dari 5.000 Halaman
Terus untuk website yang besar, misalnya website dengan portofolio sampai 5.000 halaman atau lebih, estimasi pemulihannya 3 sampai 6 bulan.
Catatannya, pemulihan bisa lebih lama, barangkali sampai 12 bulan atau kurang lebih satu tahun.
Google sendiri menyarankan domain lama itu tetap dipertahankan selama satu tahun.
Jadi, website atau situs yang lama itu tetap harus benar-benar ada selama satu tahun sebelum benar-benar ditransfer ke semua bagian situs yang baru.
Bayangin, berarti kita punya dua budget.
Domain .id tetap dipertahankan, hosting space-nya juga tetap dipertahankan. Sementara kita harus mengeluarkan biaya untuk domain .com sebagai domain yang baru dan hosting untuk website yang baru.
Jadi, dua-duanya harus dipertahankan.
Itu dari sisi biaya juga ada catatan seperti itu.
Persiapan Teknis Sebelum dan Sesudah Migrasi Domain
Sebenarnya ada bahasan yang ketiga. Cuma memang ini terlalu teknis banget, yaitu cara memastikan transfer otoritas dan indeks yang aman.
Ada persiapan sebelum go live, saat eksekusi teknisnya, sampai setelah go live.
Sebelum Go Live
Persiapan data kayak audit dan mapping URL, kemudian backup data Search Console dari domain .id dan .com.
Saat Go Live
Saat eksekusi teknisnya, jangan lupa diterapkan 301 redirect di level server.
Terus, kita juga harus pakai fitur Change of Address atau ubah alamat URL-nya.
Setelah Go Live
Setelah go live, kita juga harus melakukan verifikasi dan monitoring.
Kirimkan sitemap yang baru, perbarui tautan atau internal linking dan canonical.
Terus, ada satu lagi yang paling berat, yaitu backlink eksternal.
Ini yang paling berat. Artinya, kita harus meminta situs yang memberikan tautan ke tempat kita itu diubah menjadi domain .com, dari yang sebelumnya domain my.id.
Karena backlink itu kan berasal dari orang lain atau situs lain yang menautkan blog kita. Jadi, kita nggak bisa melakukan perubahan itu sendiri, kecuali meminta mereka.
Bayangin aja kalau misalnya backlink-nya itu ada ribuan. Tugas kita harus apa? Mengubah link yang ada di situs mereka menjadi domain .com.
Ini bukan pekerjaan ringan. Ini pekerjaan yang berat. Urusan teknis ke luar itu kan memang berat.
Sebelum Website Terlanjur Besar, Tentukan Pilihan Domain
Jadi, sebelum benar-benar melanjutkan membangun website atau blog pakai domain my.id, tujuannya harus benar-benar fix dengan domain ini.
Maksudnya, kita harus menentukan apakah mau menggunakan domain my.id atau langsung bermigrasi ke domain .com.
Dengan begitu, masalah-masalah seperti ini ke depannya tidak perlu dialami.
Sebenarnya, saya membuat pembahasan ini juga untuk menjawab kegalauan saya sendiri. Di awal saya juga sudah mengatakan bahwa tulisan ini berangkat dari kegelisahan yang saya rasakan.
Tapi, barangkali ini juga bisa bermanfaat buat kalian yang memang punya keresahan yang sama dan bisa jadi pertimbangan sebelum menentukan menggunakan website dengan domain apa.
Semoga bisa bermanfaat untuk kalian, sehingga nantinya tidak bimbang atau galau di tengah jalan.
Kalau punya cerita semacam ini atau punya kegalauan, bolehlah cerita. Silakan di komentar. Kita berbagi, saling berbagi, saling support.







