
Belakangan ini ada fenomena menarik di dunia hiburan, terutama film pendek yang dibuat dengan format layar vertikal. Kalau diperhatikan, film-film seperti ini punya cara tersendiri untuk membuat penontonnya terus mengikuti cerita.
Awalnya mungkin kita cuma iseng menonton satu episode. Kebetulan ada adegan yang menarik, lalu penasaran dengan kelanjutannya.
Eh, ternyata episode berikutnya lebih bikin penasaran. Begitu selesai, muncul lagi konflik baru yang membuat kita ingin lanjut menonton.
Tahu-tahu sudah berjam-jam saja.
Rasanya seperti masuk ke sebuah jebakan. Semakin mengikuti ceritanya, semakin sulit untuk berhenti. Seolah-olah sutradaranya sedang berkata, “Jangan berharap kamu bisa lepas begitu saja.”
Dan fenomena ini bukan sesuatu yang kecil. Sekarang semakin banyak aplikasi yang menawarkan film pendek dengan format serupa.
Satu Episode Gratis, Lalu Mulai Ketagihan
Kalau diperhatikan, cara mereka memasarkan film juga cukup menarik.
Biasanya kita diberikan satu episode gratis. Episode pertama ini dibuat semenarik mungkin supaya penonton penasaran dengan kelanjutannya.
Begitu ingin menonton episode berikutnya, kita diarahkan untuk mengunduh aplikasi mereka.
Setelah aplikasi terpasang, barulah kita disuguhi banyak pilihan film pendek lainnya. Judulnya bermacam-macam, latar waktunya berbeda, temanya juga beragam.
Ada cerita tentang pengusaha kaya, keluarga, kerajaan, balas dendam, pernikahan, sampai kehidupan seseorang yang ternyata menyimpan identitas luar biasa.
Tapi kalau diperhatikan lebih jauh, ada satu pola cerita yang sering muncul di banyak film tersebut.
Tokoh Utamanya Bukan Orang Sembarangan
Biasanya, sejak awal penonton sudah diberi petunjuk bahwa tokoh utama ini bukan karakter biasa.
Dia punya kekuatan, kekayaan, jabatan, kemampuan, atau latar belakang yang jauh lebih hebat dibandingkan orang-orang di sekitarnya.
Masalahnya, ada sesuatu yang membuat dia tidak bisa mengungkapkan jati dirinya.
Akhirnya, dia harus menerima berbagai perlakuan buruk dari orang lain.
Difitnah, dia diam.
Dijelek-jelekkan, dia diam.
Dicela, dihujat, bahkan dihina di depan banyak orang, dia tetap diam saja.
Tapi hari ini, saya sampaikan, saya akan lawan!
Hehehe, bukan begitu. Tenang, ini masih cerita film.
Justru bagian inilah yang sering menjadi senjata utama mereka.
Penonton Dibuat Emosi Berkali-kali
Coba bayangkan situasinya.
Tokoh utama sebenarnya punya kemampuan yang luar biasa. Orang-orang yang merendahkannya bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya.
Tapi mereka justru merasa paling kuat, paling hebat, dan paling berkuasa.
Mereka menghina tokoh utama tanpa tahu siapa sebenarnya orang yang sedang mereka hadapi.
Sebagai penonton, kita tentu tahu bahwa tokoh utama punya sesuatu yang disembunyikan. Kita juga tahu bahwa orang-orang yang meremehkannya suatu saat akan dibuat terkejut.
Tapi kapan itu terjadi?
Nah, di sinilah permainannya dimulai.
Satu episode selesai, tetapi identitas tokoh utama belum juga terbongkar. Episode berikutnya muncul masalah baru. Dia kembali dihina, kembali direndahkan, dan kembali memilih diam.
Bukannya selesai, masalah justru semakin panjang.
Akibatnya, emosi penonton ikut naik. Ada rasa kesal, penasaran, sekaligus keinginan untuk melihat kapan semua orang yang meremehkan tokoh utama akhirnya mengetahui siapa dirinya.
Pertanyaannya, kapan semua ini berakhir?
Ya, sampai ceritanya tamat. Hehehe.
Ternyata Ada Pelajaran tentang Retensi Penonton
Kalau kita melihatnya dari sisi pembuat konten, pola cerita seperti ini sebenarnya menarik untuk dipelajari.
Mereka tidak hanya membuat cerita yang menarik, tetapi juga menyusun setiap episode agar penonton punya alasan untuk melanjutkan ke episode berikutnya.
Ada konflik yang sengaja ditahan. Ada informasi yang belum dibuka. Ada kejadian yang membuat penonton emosi, tetapi jawabannya tidak langsung diberikan.
Semua itu membuat penonton terus bertanya-tanya.
Bahkan ketika satu masalah selesai, masalah lain sudah disiapkan.
Inilah salah satu cara menjaga retensi penonton. Bukan sekadar membuat orang mau menonton, tetapi membuat mereka punya alasan untuk bertahan sampai akhir.
Dan menariknya, strategi seperti ini ternyata tidak hanya bisa diterapkan dalam pembuatan film.
Buat kita yang suka membuat konten, ada beberapa hal yang bisa dipelajari.
Pertama, bagaimana membangun rasa penasaran sejak awal. Kedua, bagaimana menyusun alur agar setiap bagian terasa punya hubungan dengan bagian berikutnya. Ketiga, bagaimana menahan informasi supaya penonton tidak langsung mendapatkan semua jawaban di awal.
Bahkan dari cara mereka menawarkan satu episode gratis, kita juga bisa belajar tentang pemasaran. Berikan sesuatu yang membuat orang tertarik terlebih dahulu, lalu arahkan mereka untuk mengenal produk atau layanan yang lebih lengkap.
Tentu saja, bukan berarti semua konten harus dibuat dengan cara menggantung cerita. Kalau terlalu sering menahan jawaban tanpa memberikan kepuasan, penonton juga bisa bosan.
Kalau Menurut Kamu, Apa Pelajaran Terbesarnya?
Menurut saya, fenomena film pendek vertikal ini menarik bukan hanya karena ceritanya yang bikin emosi.
Ada strategi storytelling, permainan alur, teknik retensi, sampai pemasaran yang bisa kita pelajari dari sana.
Kadang kita tidak perlu selalu belajar dari film-film besar dengan durasi berjam-jam. Justru dari film pendek yang terlihat sederhana, kita bisa menemukan cara baru untuk membuat orang bertahan mengikuti sebuah cerita.
Nah, kalau menurut kamu, pelajaran apa yang paling menarik dari fenomena ini?
Dan satu lagi, film pendek vertikal apa yang pernah kamu tonton sampai tidak sadar sudah menghabiskan banyak waktu?
Coba ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu ada judul menarik yang bisa saya tonton juga.







