Dia Bukan Termul, Yakin Sekali Bukan

Dia Bukan Termul, Yakin Sekali Bukan, Dia Sudah Berubah…

Dia Bukan Termul, Yakin Sekali Bukan

Sudah kuduga dari jauh-jauh hari. Sebetulnya, pertanyaan itu terus ada dalam pikiran saya. Untuk apa dia tampil di TV dengan gaya yang khas, terlihat paling cerdas, dan seolah-olah semua orang bisa dipatahkan argumentasinya?

Dulu, semua orang geger melihat dia. Kok bisa ada orang seperti ini? Kata-katanya menginspirasi banyak orang, sampai-sampai ada konten kreator yang ikut meniru gaya bicaranya.

Sampai muncul anggapan, kalau nggak ada dia, nggak ada party. Memang betul, terasa sekali kalau dia nggak ada, acara TV itu mungkin ratingnya biasa-biasa saja.

Gaya Bicara yang Bikin Orang Terpukau

Orang-orang seperti mendapatkan inspirasi dari setiap kata yang dia ucapkan. Cerdas sekali, semua orang bisa dipatahkan argumentasinya.

Kita sendiri kadang nggak pernah kepikiran sampai sejauh itu. Tapi, dia bisa memikirkan sesuatu yang bahkan mungkin nggak pernah terlintas dalam pikiran kita.

Luar biasa memang. Sampai-sampai kita penasaran, buku apa yang dia baca? Kok bisa sakti sekali dia dalam berargumentasi?

Semua orang digoblok-goblokin. Bahkan Presiden juga nggak lepas dari sasaran kata-kata gobloknya itu.

Tapi, nggak usah panjang lebar membahas masa itu. Kita semua tahu dan bisa mencari tahu lebih banyak di YouTube tentang sepak terjangnya, bagaimana dia melawan dan membantai lawan debatnya.

Sekarang Dia Tampil Lagi, Tapi…

Sampai pada masa ini, dia tampil lagi di sebuah acara TV yang disiarkan juga melalui YouTube.

Ternyata dia nggak berubah. Gaya bahasa dan ciri khasnya masih seperti dulu. Cara berpikirnya, cara menyampaikan argumentasi, semuanya masih terasa sama.

Dia bahkan tidak menunjukkan kalau dirinya adalah termul. Dan memang, kalau dilihat sepintas, nggak ada gelagat sedikit pun yang memperlihatkan bahwa dia termul.

Di sinilah menariknya. Kita yang berada di akar rumput, yang nggak tahu persis sebetulnya mereka sedang berdebat tentang apa, bisa saja ikut setuju dengan bapak guru komunikasi itu.

Bukan Apa yang Diucapkan, Tapi Apa yang Dirasakan

Ada satu hal yang saya ingat dari pernyataan bapak guru komunikasi itu.

Bahwa apa yang disampaikan bukan semata-mata apa yang diucapkan, tetapi apa yang bisa kita rasakan.

Kita orang akar rumput mungkin nggak terlalu paham apa yang sebenarnya dia bicarakan. Kita juga belum tentu mengerti seluruh argumentasi dan maksud dari setiap kalimat yang disampaikan.

Tapi, kita bisa merasakan sesuatu dari cara dia berbicara. Ada sesuatu yang mungkin nggak bisa dibaca begitu saja dari kata-katanya.

Dan justru di situlah letak menariknya.

Dia Bukan Termul, Yakin Sekali Bukan!

Kalau melihat gaya berpikir dan gaya retorikanya, dia BUKAN termul.

Bisa dipastikan, dia bukan termul, tapi dia adalah terwo.

Pasirgurun.
Pasirgurun.

Saya orang di balik PASIRGURUN. Blog pribadi tempat saya menyimpan berbagai hal yang saya temui, pelajari, kerjakan, dan pikirkan. Kadang membahas sejarah dan peradaban Islam, kadang buku dan psikologi, kadang WordPress, SEO, teknologi, atau sekadar cerita-cerita kecil yang sayang kalau lewat begitu saja. Kok namanya PASIRGURUN? nah ceritanya ada disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *